oligopoli dan monopoli

Oligopoli adalah suatu bentuk pasar dimana terdapat dominasi sejumlah pemasok dan penjual. Pada kenyataannya, Sistem oligopoli yang ada, memiliki konsentrasi pasar yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa persentase yang besar dari pasar Oligopoli ditempati oleh perusahaan-perusahaan komersial negara terkemuka. Perusahaan-perusahaan ini membutuhkan perencanaan strategis untuk mempertimbangkan reaksi dari pesaing lain yang ada di pasar. Oligopoli dalam praktek pasar bebas, sangat menguntungkan para pemilik modal yang banyak.
Kasus oligopoli
KPPU Periksa Kasus Kepemilikan Silang Telkom-Indosat
TEMPO Interaktif, Jakarta:Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menunggu konfirmasi kelengkapan data dari Temasek Group hingga tanggal 15 Agustus, terkait dugaan adanya kepemilikan silang (cross ownership). Apabila melewati batas tanggal itu, Temasek tak memberikan konfirmasi data, maka KPPU menganggap Temasek menyetujui dugaan adanya kepemilikan silang.
“Setelah memberi batas waktu pada Temasek, KPPU kemungkinan akan keluarkan amar putusan pada bulan September,” ujar Ketua KPPU, Muhammad Iqbal, Selasa (7/8).
KPPU meminta keterangan kepada sembilan perusahaan dari Temasek Group sejak Mei 2007. Diantaranya, Singtel, Qatar Telecom, Asia Mobile, ICL dan lainnya. Perwakilan usaha ini telah membantah melakukan praktek kepemilikan langsung. Namun, kata Iqbal tanpa disertai bukti pendukung.
Bukti pendukung yang diperlukan KPPU seperti data tarif dan data percakapan. “Kami punya rumus dan perhitungan. Data pendukung itu penting untuk mengambil keputusan,” katanya.
Penyidikan dugaan terjadinya kepemilikan silang, berlandaskan pasal UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, pasal 27 A. Kepemilikan silang, kata Iqbal tak hanya dilihat dari presentase kepemilikan perusahaan, tapi dari kebijakan (conduct) perusahaan dalam menetapkan tarif.
Iqbal menjelaskan, Telkomsel dan PT Indosat Tbk, dua perusahaan yang dimiliki Temasek adalah pemilik 80 persen dari pangsa pasar telekomunikasi di Indonesia. “Dengan menguasai pasar, mereka cenderung menguasai tarif telpon,” ujar Iqbal.
Penguasaan tarif pada kelompok usaha tertentu, kata Iqbal akan merugikan konsumen. Dia membeberkan, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia menetapkan tarif interkoneksi CDMA sebesar Rp 38 per menit. Tiap perusahaan menerapkan tarif basis yang berbeda, seperti Esia sebesar Rp 49 per menit. Sehingga, Esia bisa menerapkan tarif Rp 87, namun kenyataannya tarif yang berlaku Rp 125 per menit.
Pembuktian pelanggaran persaingan usaha telekomunikasi diharapkan mengikuti jejak penyelesaian kasus oligopoli dunia penerbangan. Pasca pembuktian oligopoli Garuda Indonesia dan Merpati, tarif penerbangan lokal menjadi turun 50 persen.
Monopoli
Secara harfiah, “penjual tunggal.” Sebuah situasi di mana satu perusahaan atau individu memproduksi dan menjual seluruh output dari beberapa barang atau jasa yang tersedia dalam pasar tertentu. Jika tidak ada pengganti dekat untuk barang atau jasa yang bersangkutan, monopoli akan dapat menetapkan kedua tingkat output dan harga pada tingkat tertentu untuk memaksimalkan keuntungan tanpa khawatir tentang menjadi melemahkan oleh pesaing (setidaknya dalam jangka pendek berjalan). Jika permintaan untuk barang atau jasa yang dijual oleh perusahaan monopoli sangat inelastis, harga dan tingkat keuntungan dalam industri akan cenderung lebih tinggi (dan output yang lebih rendah) daripada kondisi yang kompetitif dan harga mungkin sebenarnya terasa lebih tinggi dari marjinal biaya produksi untuk periode yang cukup besar waktu.

Contoh kasus monopoli

Microsoft disinyalir telah memonopoli pasar perangkat komputer jinjing di Indonesia, baik laptop maupun netbook, dengan sistim operasi berbasis proprietary (software kode tertutup).
Penggiat teknologi komunikasi informasi, Onno Widodo Purbo, menilai apa yang dilakukan raksasa software dunia itu adalah pelanggaran terhadap UU No.5/1999 tentang praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
Dugaan monopoli ini berawal ketika Onno, demikian ia biasa dipanggil, merasa tidak ada toleransi bagi calon pembeli laptop maupun netbook yang ingin menggunakan sistim operasi berbasis open source (software kode terbuka).
Mengingat perangkat komputer jinjing itu telah dibundel secara pre-install dengan sistim operasi Microsoft Windows, ia pun mengeluhkan, harga yang musti dibayar calon pembeli otomatis akan membumbung ratusan dollar AS dari harga dasar perangkat.
“Artinya, pembeli dipaksa untuk membayar Microsoft bersama laptop atau netbook tersebut, tidak peduli walaupun tidak digunakan,” ketusnya dalam pernyataan yang juga disampaikan pada Kematian.Biz, Senin (2/3/2009).
Mantan dosen teknik ITB ini mengandaikan, jika laptop maupun netbook tersebut laku terjual ribuan unit per bulannya, maka Indonesia dinilai telah menghamburkan uang miliaran rupiah per bulan untuk Microsoft yang notabene perusahaan asing.
“Belum tentu software Microsoft diperlukan semua pengguna. Dan saya rasa ini bertentangan dengan program yang jelas-jelas dicanangkan pemerintah, yakni, Indonesia Go Open Source atau IGOS,” kata Onno.
Onno berharap, indikasi monopoli ini dapat menggugah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Departemen Perdagangan, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Ristek).
“Semoga teman-teman di sana tergugah untuk melihat kasus ini lebih jauh,” demikian tandasnya. Surat pengaduan dugaan monopoli ini juga diteruskan Onno kepada instansi pemerintah terkait, yang telah disebutkan di atas.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2099374-pengertian-oligopoli/
http://echyaya.blogspot.com/2010/06/kasus-monopoli.html
http://www.tempo.co/read/news/2007/08/08/056105106/KPPU-Periksa-Kasus-Kepemilikan-Silang-Telkom-Indosat
http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2090914-pengertian-monopoli/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: